
Ucapan Bismillahirrahmanirrohiim, punya makna tersendiri, yaitu memulai sesuatu dengan menyebut asma Allah dan mengingatNya sebelum segala sesuatu, mengharap pertolongan kepada Allah di semua urusan, hanya meminta pertolongan kepadaNya saja, sesungguhnya Rabb yang disembah, yang memiliki segala kelebihan, kemurahan hati, keluasan rahmah, banyak keutamaanNya. Dan kebaikan yang rahmatNya mencakup atas segala sesuatu dan kebaikanNya meliputi seluruh makhluk
Kita dianjurkan untuk mengucapkan basmallah saat membaca setiap surah dari kitab Allah Ta’ala kecuali ketika membaca surah At-Taubah, dan ketika sholat wajib mengucapkan basmalahnya dengan suara lirih (pelan) meskipun melakukan sholat jariyah (yang dikeraskan bacaannya), disunnahkan juga untuk kita mengucapkan bismillah ketika makan, minum, memakai pakaian, ketika masuk masjid dan keluar darinya, dan ketika naik kendaraan, dan dalam tiap urusan penting kayak wajibnya seorang hamba menyebut Bismillah, Allahuakbar ketika menyembelih.
Muncul satu pertanyaan nih, kenapa gak ada Basmalah di awal surah at-Taubah??
Ada beberapa pendapat dari kalangan ulama ahli tafsir...
Pertama, menurut kebiasaan orang-orang arab zaman dulu, kalo diantara mereka ada perjanjian tertulis maka mereka menuliskan bismillah, tapi kalo ingin membatalkan perjanjian itu, mereka nulisnya tanpa pake basmallah. Ketika surah at-Taubah turun yang menandai tidak berlakunya perjanjian antara Rasulullah dan orang musrikin, Rasulullah SAW mengutus Ali bin Abi Thalib membacakan surah itu tanpa menyebut basmallah di awalnya.
Kedua, dikatakan bahwa ada kesamaan antara surah at-Taubah dengan surah sebelumnya al-Anfal, maka surah at-Taubah disebut-sebut sebagai kelanjutan dari surah sebelumnya, sehingga tidak ada basmallah di awal surah ini. Pendapat ini diriwayatkan oleh Tirmidzi.
Ketiga, surah at-Taubah berdekatan dengan surah al-Baqoroh dan punya kesamaan antara keduanya, maka tidak dituliskan basmallah di awal surah.
Keempat, ada pendapat yang mengatakan bahwa ketika dilakukan kondifikasi mushaf pada zaman kekhalifahan Ustman r.a, terdapat perbedaan pendapat antara penulis mushaf, apakah surah at-Taubah dan al-Anfal merupakan satu surah atau dua surah berbeda? Untuk mengmbil jalan tengah dari dua pendapat tersebut, maka ditetapkan bahwa surah at-Taubah dan al-Anfal adalah dua surah dengan tanpa menuliskan basmallha di awal surah at-Taubah.
Kelima, diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas, ketika di tanya oleh Ali bin Abi Thalib kenapa tidak dituliskan basmallah di awal surah at-Taubah? Beliau menjawab, “Bismillahirrahmanirrahiim” mempunyai makna keamanan dan perdamaian, dan surah at-Taubah turun dalam bayang-bayang pedang ketika perang Tabuk, dimana tidak ada situasi aman saat itu. Basmallah itu sendiri menyiratkan makna rahmat kasih sayang, sedangkan surah at-Taubah banyak berisi kecaman dan sanggahan terhadap sikap orang-orang munafiq dan orang kafir, maka tidak ada rahmat bagi mereka.
Ada juga riwayat yang menyatakan bahwa malaikat Jibril tidak menyertakan basmallah ketika menurunkan surah at-Taubah.
Jika dirunut secara bahasa, maka akan kita dapatkan keagungan kalimat bismillahirrahmanirrahiim. Kata Bismillah merupakan tiga rangkaian kata yang mengandung arti yang agung yaitu Ba (bi), Ism, dan Allah.
1. Huruf ‘ba’ yang di baca ‘bi’ disini mengandung dua arti:
Pertama, huruf ‘bi’ yang diterjemahkan dengan kata “dengan” menyimpan satu kata yang tidak terucap tetapi harus terlintas dalam benak ketika mengucapkan basmallah, yaitu memulai. Sehingga bismillah berarti “saya atau kami memulai dengan nama Allah”. Dengan demikian kalimat tersebut menjadi semacam doa atau pernyataan dari pengucap. Atau dapat juga diartikan sebagai perintah dari Allah (walaupun kalimat tersebut tidak berbentuk perintah), “Mulailah dengan nama Allah”
Huruf ‘bi’ yang diterjemahkan dengan kata “dengan” itu dikaitkan dalam benak dengan kata “kekuasaan dan pertolongan”. Pengucap basmallah seakan-akan berkata, “dengan kekuasaan Allah dan pertolonganNya, pekerjaan yang sedang saya lakukan ini dapat terlakasana”. Pengucapnya seharusnya sadar bahwa tanpa kekuasaan Allah dan pertolonganNya, apa yang sedang dikerjakannya itu tidak akan berhasil. Ia menyadari kelemahan dan keterbatasan dirinya tetapi pada saat yang sama –setelah menghayati arti basmallah ini- ia memiliki kekuatan dan rasa percaya diri karena ketika itu dia telah menyandarkan dirinya dan bermohon bantuan Allah Yang Maha Kuasa itu.
2. Kata ‘Ism’ setelah huruf ‘bi’ terambil dari kata as-sumuw yang berarti tinggi dan mulia atau dari kata as-simah yang berarti tanda. Kata ini biasa diterjemahkan dengan nama. Nama disebut ism, karena ia seharusnya dijunjung tinggi atau karena ia menjadi tanda bagi sesuatu.
Syaikh Al-Maraghi dalam tafsirnya menjelaskan dengan penyebutan nama disini berarti dirinya memulai pekerjaan dengan nama Allah dan atas perintahnya bukan atas dorongan hawa nafsu belaka.
Penyebutan nama Allah diharapkan pekerjaan itu menjadi kekal disisi Allah. Di sini bukannya Allah yang namaNya disebut itu yang kita harapkan menjadi kekal karena Dia justru Maha Kekal. Namun yang kita harapkan adalah agar pekerjaan yang kita lakukan itu serta ganjarannya menjadi kekal sampai hari kemudian. Banyak pekerjaan yang dilakukan seseorang tapi tidak mempunyai bekas apa-apa terhadap dirinya atau masyarakat, apalagi berbekas dan ditemui ganjarannya di hari kemudian. Demikianlah Allah mentamsilkan perbuatan orang-orang yang kafir yang tidak dibarengi dengan keikhlasan kepada Allah, “Dan Kami hadapi hasil-hasil karya mereka (yang baik-baik itu), kemudian Kami jadikan ia (bagaikan) debu yang beterbangan (sia-sia belaka). (QS 25: 23)
3. Kata Allah, berakar dari kata walaha yang berarti mengherankan atau manakjubkan. Jadi Tuhan dinamai Allah karena segala perbuatanNya menakjubkan dan mengherankan. Karena itu terdapat petunjuk yang menyatakan, “Berfikirlah tentang makhluk-makhluk Allah dan jangan berfikir tentang DzatNya”.
Sementara itu sebagian ulama mengungkapkan bahwa kata Allah terambil dari kata aliha – ya’lahu yang berarti menuju dan bermohon. Tuhan dinamai Allah karena seluruh makhluk menuju serta bermohon kepadaNya dalam memenuhi kebutuhan mereka, atau juga berarti menyembah dan mengabdi, sehingga lafazh Allah berarti “Zat yang berhak disembah dan kepadaNya tertuju segala pengabdian”.
Sumber; http://www.dakwatuna.com/2007/keagungan-...